Arian,Arian,Arian

Hari itu hujan. Aku suka sekali dengan hujan. Di sisa menit-menit terakhir pelajaran olahraga, semuanya berlari menuju kelas. Tapi aku masih berjingkrak riang dengan nyanyian hujan. Hujan memberikan ketenangan. Kedamaian. Memberikan ruang untukku menjadi diri sendri. Aku berlari dan bernyanyi.

Aku tersadar, di ujung koridor sana, cowok itu tertawa-tawa geli melihat tingkahku. Sambil memegang satu botol air mineral, ia menunjuk-nunjuk riang kepadaku. Aku membalas candaannya dengan terus bernyanyi, menari dan berlari. Mencari kedamaian. Mumpung ada hujan di siang bolong. Ha-ha-ha!

Dia adalah Arian. Cowok pertama yang bilang kalau aku cantik. Cowok pertama yang menjadi sahabatku. Cowok pertama yang memberikan saran agar rambutku dibiarkan saja terurai. Jangan diikat terus-terusan. Aku suka senyumnya. Aku suka suaranya. Aku suka candanya. Aku suka marahnya. Aku suka begonya. Aku suka matanya. Aku suka wanginya. Satu hal yang aku tak suka, dia mencintai Nara.

Aku mengenal Arian sejak pertama masuk SMA. Kami sama-sama aktif di OSIS. Dia cowok pertama yang mau menjadi sahabatku. Karena sebelumnya, aku tak punya sahabat. Aku hanya punya teman bermain, teman bercanda, teman tertawa, teman belajar, teman berkelahi dan teman hangout. Tapi dengan Arian, aku pernah menangis bersama. Dengan Arian, aku pernah pipis di celana bersama. Dengan Arian aku pernah curhat, sebelumnya aku enggak pernah melakukan aktivitas curhat seperti cewek kebanyakan. Dengan Arian, aku bisa menjadi diriku sendiri. Dengan Arian, aku merasakan cinta.

Arian. Arian. Arian. Hanya sejak mengenal Arian aku bisa punya buku diary. Di dalamnya aku tulis hanya satu nama, Arian.

Kisah ini dirajut atas nama persahabatan. Namun, aku jatuh cinta diam-diam. Entah sejak kapan atau bagaimana persisnya aku sendiri tak begitu paham. Yang aku tahu, aku jatuh cinta. Aku nyaman. Aku tak mau kehilangan. Itu, kan, yang namanya cinta? Mungkin ada yang lebih luas lagi dibandingkan dengan itu? Namun yang aku tahu, luas Samudera Pasifik tidak cukup untuk menggambarkan kebahagiaanku saat bersama Arian. Tapi ada yang mengganjal, aku harus sembunyi-sembunyi meluapkannya.

Aku luapkan di tempat tidur, ketika aku menerima sms dari Arian, aku langsung memeluk guling, lalu guling-gulingan. Aku luapkan di depan kaca, cengengesan tak karuan. Aku luapkan di kamar mandi, menyanyikan lagu-lagu cinta walau harus membangkitkan amarah Mama, Papa dan Abang. Yang paling aman, meluapkannya di antara hujan. Karena Arian, aku suka hujan.  

Arian. Entah mengapa aku sangat menyukai cowok ini. Cowok biasa dengan senyum ramah dan kenakalannya yang menggemaskan. Dia suka main sepak bola. Dia suka Geografi. Dia suka Luis Figo. Dia suka nonton film Jackie Chan. Dia suka makan permen karet. Satu hari di sekolah menghabiskan 3 botol air mineral. Dia suka main drum, walaupun tidak mahir. Dia suka baca komik Naruto. Dia suka Hinata. Dia suka Nikita Willy dan Syahrini (yang ini sebenarnya rahasia kami berdua). Dia suka Sum 41. Dia suka main catur. Dia punya ikan koi. Dia punya segudang kaset PS. Dia punya segudang foto Nara. Dia punya boneka Sonic dari Nara. Dia suka menciumi foto Nara. Dia suka mengantar Nara les Matematika Rabu dan Sabtu sore. Dia suka membelikan Nara es krim. Dia suka rambut Nara. Dia suka pipi Nara. Dia suka bibir Nara. Dia suka senyum Nara. Dia suka sama Nara. Dari dulu hingga detik ini.

Arian masih tertawa puas di ujung koridor sana. Arian masih saja begitu. Tak menyadari. Arian masih saja tak tahu. Apakah memang dia tidak tahu atau tidak mau tahu? Padahal setiap saat aku selalu menyuguhkan cinta. Mungkin aku hanyalah sahabat. Selamanya akan seperti itu.

Tiba-tiba aku terpatung. Aku melihat gadis itu menghampiri Arian dengan manja. Ia merajuk. Gadis manis dengan rambutnya yang ikal hitam sebahu. Gadis manis dengan bibir tipis melengkungkan pelangi. Gadis manis dengan pipi merah jambu. Gadis manis dengan jemari yang super indah. Gadis manis yang dicintai sahabatku. Aku selalu menyaksikan itu. Setiap hari. Sepanjang aku memulai kisahku dengan Arian.

“Ar, nanti gak usah nganterin aku ke tempat les ya.”

“Kenapa?”

“Hari ini aku libur. Mau jemput Tante di stasiun Gambir.”

“Mau aku anter? Aku bisa, kok. Biar nanti aku izin enggak perlu ikut rapat OSIS.”

“Enggak usah, Ar. Aku pergi sama Ibu, kok. Aku ke kelas lagi, ya. Pak Satya lagi bahas Matriks. Kan aku suka banget!”

Arian tersenyum pada Nara.

“I love u Nara…”

“I love u more…”

Nara berlari kecil meninggalkan koridor. Aku masih terdiam. Aku sudah kebal dengan adegan seperti itu. Tapi tetap saja, hati kecil ini rasanya sakit. Tahu, kan, rasanya semacam apa? Luka kena silet disiram air garam? Mungkin kalau untuk urusan cinta, silet dan air garam tak cukup mewakili.

Arian kembali melempar pandang padaku. Aku masih terpatung.

“Woooiiii… Ngiri, yaah? Makanya pacaran!!! Ha-ha-ha-ha-ha!” Ia tergelak lagi.

Aku cuma memandangnya penuh kegetiran. Aku memang iri, Ar. Iri sekali melihat kalian bersama. Iri pada Nara.

Semakin hari, perasaan ini semakin kuat. Perasaan ini sangat menganggu. Bagaimana mungkin setiap saat hanya Arian yang ada di pikiranku. Bagaimana mugkin setiap saat aku selalu ingin bersama Arian. Ini menyakitkan. Mungkin lain persoalan jika dalam kisah ini tak ada Nara. Bila ada pun, setidaknya Arian tidak menyayanginya. Ini akan menjadi sangat mudah dan menguntungkanku. Andai saja ini kisah sebuah novel dan aku pengarangnya, akan kuhapus saja Nara dari kisahku dan Arian. Tapi ini realita. Tak dapat dipungkiri dan dielakkan.

         Di hari berikutnya, lagi-lagi hujan menyaksikan kisahku bersama Arian. Cinta pertamaku. Hari ini kami berjalan berdua saja di bawah satu payung. Arian tidak tahu bahwa saat itu hatiku berdegup kencang. Aku merasa sangat dekat dengannya. Dan ini adalah kali pertama. Ingin tersenyum bahagia, tapi harus kutahan. Aku harus mampu memendam ini untuk ke sekian kalinya.

         Kupandangi diam-diam wajahnya yang terkena titik air hujan. Aku baru sadar, ternyata tubuh Arian memang tegap. Kepalaku hanya sejajar dengan bahunya. Dia sangat tinggi. Aku tersenyum kecil. Tiba-tiba ia menoleh seraya mengerutkan dahinya. Aku dengan seketika memalingkan wajahku.

         “Kenapa?”

         Aku tidak menjawab. Suaranya sangat jelas terdengar.

         Tiba-tiba saja hujan semakin deras. Kami berdua memutuskan untuk berteduh di sebuah halte. Hanya aku dan Arian. Aku harus berusaha keras agar perasaan bahagiaku ini tidak membuncah. Agar perasaan ini tidak kasat mata.

         “Harusnya hujan-hujan begini gue sama Nara. Pasti romantis! Hmmm…malahan bareng sama lo.”

         Aku meninju bahunya. Aku protes. Buatku ini romantis. Bersama cinta pertamaku di tengah hujan sore hari. Ayolah, Arian, coba nikmati saja momen ini. Setidaknya jangan bawa Nara di tengah hujan sore hari milik kita. Walaupun kamu mengharapkan Nara, simpanlah saja dulu di dalam hatimu. Seperti aku menyimpan harapan ini.

         Arian memandang ke arahku. Tersenyum kecil. Aku tidak mampu membalas senyumnya. Aku palingkan wajahku. Aku takut kalau-kalau aku terbawa suasana dan menampilkan tatapan cinta pada Arian. Hening beberapa menit.

         “Sebenarnya…” suara Arian terbata memecah sepi di antara kami. Tatapannya merawang. Aku tiba-tiba merasakan ada keganjilan. Aku palingkan wajahku padanya.

         “Lo tau, kan, Kakek udah sakit-sakitan?”

         Aku mengangguk pelan. Arian masih menatap kosong ke depan. Aku coba menerka apa yang akan ia ucapkan selanjutnya. Lima menit, sepuluh menit, masih kulihat bibirnya mengatup, tak ada pertanda bahwa ia akan melanjutkan ucapannya. Hingga hujan berhenti menjejak bumi, ia masih  tak juga bicara. Aku pun tak punya nyali untuk bertanya. Hingga semua itu terjawab di suatu sore yang indah berikutnya dengan rintik-rintik gerimis membasahi taman.

         “Titip buat Nara,” Arian berkata pelan sambil mengulurkan sebuah kotak berpita ungu. Aku masih terdiam lalu menatapnya dengan beribu pertanyaan.

         “Jangan bingung. Cukup kasih ini buat Nara,” ia mengulangi dan meletakkan kotak itu di atas pangkuanku.

         Aku tahu ini pertanda yang tidak baik. Sejak hujan di sore hari itu, aku mulai merasakan ada sesuatu. Aku selalu mencoba membaca tapi tidak pernah bisa. Tiba-tiba semuanya terjawab di hari ini. Pertemuan terakhirku dengan Arian di sore hari berteman gerimis. Aku sakit mendengar kenyataan bahwa dia harus pergi. Arian memelukku erat. Dia harus pergi karena untuk kebaikannya. Sejak tinggal bersama Kakek setelah kedua orangtuanya meninggal, ia sudah bisa menebak bahwa Kakek tidak mungkin sanggup membesarkannya di usia renta. Arian akan pergi. Aku akan kehilangan Arianku. Sahabat terbaik dan cinta pertamaku. Di sore itu aku tidak mampu berkata apa-apa. Menangis pun tidak. Aku bahkan tak membalas pelukannya. Aku hanya merasa tiba-tiba semangatku menghilang entah ke mana.

         Esok harinya, aku bertemu Nara. Aku ceritakan apa yang harus kusampaikan pada Nara dan juga kotak berpita ungu itu. Nara memelukku sambil menangis. Aku berusaha menguatkan. Entah mengapa Arian pun tidak pernah membicarakan sebelumnya dengan Nara. Semuanya terjadi tiba-tiba.

         Aku kehilangan Arian. Hujan hari ini tanpa Arian adalah sebuah kekosongan. Aku rindu Arian. Sore itu aku duduk di halte sendiri sambil menunggu hujan reda. Aku buka tas ranselku untuk mengambil tempat air minum. Tiba-tiba aku menemukan sebuah surat terselip di antara buku yang memang tidak pernah aku buka. Di dalam surat itu tertulis namaku.

Untuk Malika,

Maaf ya, gue tiba-tiba pergi.

Terima kasih udah jadi sahabat terbaik gue selama dua tahun ini.

Gue tahu perasaan lo ke gue, Ka. Terima kasih untuk perasaan lo itu.

Kalau suatu hari kita ketemu lagi, berarti kita memang berjodoh.

Dan gue gak akan membohongi diri gue lagi, Ka.

Gue bawa Diary Cokelat lo buat jadi kenangan gue.

See you soon.

Arian.

         Aku menangis. Itu tangisan pertamaku setelah Arian menghilang dari hidupku. Aku peluk sepucuk surat dari cinta pertamaku. Aku masih bisa berharap. Berharap tentangnya, sudah jadi keseharianku sejak kisahku dan Arian dimulai, dan aku akan terus menyimpannya.

***

Memori Hujan

Mendung seakan bersahabat dengan langit belakangan ini. Bumi hampir tak pernah tersentuh sinar mentari. Titik air yang selalu membasahi bumi yang gersang, meneduhkan sekaligus mengkhawatirkan penduduknya. Meneduhkan, karena sejatinya hujan diturunkan sebagai renungan dari Sang Khalik buat makhluk-Nya. Mengkhawatirkan, karena hujan kerap kali membawa kemacetan sebagai kawan. Tak ada seorang pun yang merasa bebas dari ancaman pulang malam.

Termasuk aku, yang terus berkeluh kesah di bawah naungan halte bis ini. Sore hari menunggu bis di halte bukanlah ide yang baik, namun hujan ini kian memperparah perasaanku. Yang membuatku kesal, bukanlah titik-titik air yang turun dari langit itu, melainkan kendaraan-kendaraan di hadapanku. Iri aku melihat mereka yang bermobil mewah, bertambah dengki ketika dengan egoisnya mereka menciptakan ‘pola’ baru di bajuku.

Saat aku tengah bersungut-sungut meratapi nasib, mataku tertumbuk pada seseorang. Ia tersenyum dan menanyakan keadaanku. Aku baik-baik saja, kataku. Ia tersenyum lagi.

“Siapa namamu?” tanyanya.
“Carina,” jawabku.
“Rasi bintang,” tukasnya gamblang.
“Ya, tidak banyak yang tahu namaku berasal dari rasi bintang,” jawabku, jelas-jelas merasa senang dengan fakta itu.
“Ibuku mencintai bintang, sama seperti aku mencintai hujan,” balasnya.
“Kalau begitu, mungkin kita tidak akan cocok, karena aku membenci hujan,” ujarku terus terang.
“Mengapa?” tanyanya. Matanya yang sipit terbelalak, mulutnya terbuka setengah.

Aku tertawa melihat ekspresinya. Di antara tawa, aku berujar getir, “Hujan mengambil ayahku setahun lalu.” Ekspresinya berubah, agak berduka.

“Maaf…kecelakaan?” tanyanya. Aku mengangguk lembut. Setelah itu, tak ada diksi di antara kami, hujan sajalah yang mewarnai percakapan kami.

Tapi, itu bukan terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengannya. Ia menyandang kamera di pundak kanannya. Dan, hari itu ketika aku bertemu dengannya, hujan kembali turun dari langit.

“Apa kau ini dewa hujan, heh? Mengapa setiap aku bertemu denganmu, selalu diiringi dengan hujan?” seruku bercanda.
Dia tertawa, kemudian berkata, “Aku lahir bersama hujan, dan kemana pun aku pergi selalu hujan, aku lelaki yang membawa hujan.”
Aku tersenyum, menggodanya, “Mereka selalu bilang, orang yang lahir bersama hujan adalah orang yang pelit,” kataku.

“Aku tidak!” bantahnya.
“Benarkah?” tanyaku lagi.
“Aku akan ke sana, akan kubelikan kau segelas cokelat hangat!” katanya mencari pembuktian, jarinya menunjuk ke bangunan kedai kopi ternama. Dengan geli aku mengikutinya. Saat ia menyerahkan gelas itu kepadaku, aku tergelak. Dia menatapku, bingung.

“Kau itu benar-benar seperti keponakanku saja!” seruku. Ia cemberut. Aku mencubit pipinya “Kyeopta*,” seruku spontan.
Ia menempelkan tanganku di pipinya, agak lama, hingga membuatku canggung. Aku tak bisa berkata-kata dan akhirnya aku mengalihkan pembicaraan.

“Bisnya sudah datang, aku pulang dulu,” seruku. Ia kembali tersenyum,
“Menghindar?” tanyanya. Matanya berkilat nakal dan menggoda .
“Menghindar dari apa?” seruku berpura-pura polos.
“Dari ini….” ia menggantung kalimatnya,lalu menatapku dalam.
Tanpa kusadari pipiku memerah, dan saat itu juga, tangannya bergerak mencubit pipiku. “Kyeopta,” serunya. Kini ganti aku yang cemberut, ia tertawa.
     ”Sudah, pulang sana, nanti terlalu malam sampai rumah,” katanya lagi.
 ”Ne, ahjusshi**,” seruku seraya menjulurkan lidah dan bergegas pergi dari kafe itu. Sempat kutangkap langkah kakinya dan senyum khasnya dari sudut mataku, sebelum aku naik bis.

Sejak saat itu, aku selalu bertemu dengannya di bawah naungan halte. Kami mengobrol tentang banyak hal, aku menemukan sisi lain dirinya yang tak pernah kutemukan sebelumnya. Dia, seseorang yang hingga saat ini belum kutahu namanya, adalah seorang pemikir yang lihai mengambil keputusan. Karakternya mantap, jika dia berkata ‘Ya’ terhadap sesuatu,dia akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh, tapi jika dia telah mengatakan ‘Tidak’ pada sesuatu, dia tidak akan pernah menyesali keputusannya itu.

Tipe cowok idealku.
Tunggu!
     Kenapa aku bilang begitu tentangnya? Aku dan dia hanya sahabat, dia adalah orang yang senang kuajak bertukar pikiran. Dia bijak, dan aku memang mengharapkan kebijakannya itu. Di samping itu, dia menghilangkan ketakutanku terhadap hujan. Dulu, sebelum keberadaannya, aku selalu mendesah saat hujan turun, teringat kenangan buruk yang mengambil nyawa ayahku dulu. Sekarang, dengan keberadaannya, aku merasa senang bila hujan turun. Karena dia ada setiap hujan turun. Dia adalah matahari pribadiku, yang menyinariku di saat mendung menutupi matahari yang lain.

Dan hari itu, aku kembali menemuinya di halte reyot itu. Ia menyampirkan Nikon andalannya dia pundak. Aku melirik kameranya itu. “Mau memotret apa?” tanyaku.

“Bintang,” jawabnya gamblang. “Langit malam, tepatnya, karena aku tak mungkin memotret bintang dengan benda ini,” katanya seraya menepuk-nepuk kamera andalannya. Aku tertawa, lalu menghempaskan diri ke bangku halte, duduk di sebelahnya. Ia menerawang langit.

“Mengapa kau sangat menyukai bintang? Tidakkah mereka itu ilusi? Terlihat indah dari jauh, namun hanya merupakan kumpulan debu dan gas ketika didekati?” tanyanya.

Aku menghela nafas-pertanda aku ingin bicara serius.
“Pertama karena namaku-Carina, berasal dari rasi bintang. Sama sepertimu yang terlahir saat hujan, aku merasa istimewa karenanya. Kedua, benar, bintang adalah ilusi, tetapi, dengan ilusinya bintang dapat membuat seisi bumi terpukau, tidakkah itu hebat?” aku mengakhiri argumenku. Aku menatap awan yang mulai bertengkar.

“Bagaimana denganmu? Tidakkah hujan menunjukkan kesedihan, airmata yang turun dari langit?”

Ia tersenyum. “Hujan memiliki dua sisi, sama seperti mata pedang, melambangkan kesenangan, tetapi juga melambangkan kesedihan.Tetapi, sesungguhnya, hujan diturunkan untuk menenangkan hati manusia, meneduhkan pikirannya, menghapus kenangan buruk darinya, karena setelah hujan, hadirlah pelangi. Sama seperti hidup ini, setelah ada tantangan yang rumit, tawa bahagia menanti di belakangnya,” ia menutup argumen puitisnya itu.

Keheningan kembali menyelimuti. Masing-masing dari kami memikirkan argumen yang lain. Aku duduk di bangku halte dan dia mematung di bawah naungan atapnya. Waktu berdetak, dan kecipak genangan air tiba-tiba membuyarkan lamunan kami. Aku menoleh, mengamati anak-anak kecil yang bermain di genangan air. Ia menoleh pada saat yang bersamaan, mengangguk ke arahku. “Lihat itu, itulah kebahagiaan yang hadir setelah hujan, Carina,” serunya tersenyum, merasa menang.

Aku, yang tak ingin mengalah, berujar, “Mereka anak kecil, seorang anak kecil selalu melihat sesuatu dengan penuh kekaguman, mereka tak mengerti apa yang mereka lihat.”

“Jika seorang anak kecil tak bisa bersikap dewasa, itu wajar. Yang tak wajar adalah orang dewasa yang lupa dulu dirinya pernah menjadi anak kecil,” ia menerawang. Aku mengenali kata-kata itu, Albus Dumbledore, batinku. Rupanya pria pecinta hujan ini juga pecinta Harry Potter.

Waktu berdetak kembali, dan diksi akhirnya memecah bendungan sungai kebisuan. “Alam mengajarkan kita begitu banyak hal,” serunya, menatap ke langit sore yang kembali mendung.

“Sejatinya, Tuhanlah yang mengajarkan kita, karena jagat raya ini adalah kepunyaanNya, Dialah guru dari segala guru,” balasku.

“Dan semakin banyak manusia belajar, semakin ia menyadari kebodohannya. Bukan kata-kataku, Dan Brown yang punya,” ia tersenyum samar, seolah menyayangkan ketidakmampuan berpuisinya.

“Aku tahu,” seruku singkat, mengakhiri percakapan kami.
Malam itu, ternyata adalah malam terakhir aku bersamanya. Sejak malam itu hingga seterusnya, aku tak pernah lagi melihatnya. Di halte, di bis, di kedai kopi, di mana-mana. Ia seolah menghilang bersama musim hujan. Aku terus menerus mengharapkan hujan, berharap ia muncul bersamanya. Namun, ia tak pernah muncul. Seolah menghilang bersama pudarnya musim hujan. Hujan tak sama lagi tanpanya. Dialah lelaki yang membuatku mencintai hujan.

Dan, di sinilah aku berdiri kembali dipayungi halte reyot. Titik-titik hujan kembali turun, dan memoriku tentangnya kembali bermain. Seiring dengan turunnya hujan, aku tersenyum, teringat kata-katanya padaku di tempat ini dulu. Karena aku meyakini satu ha : Meski kini dia tak lagi berada di sampingku, aku tahu, dia berada di bawah langit yang sama denganku, menatap hujan ini dengan tersenyum, sama seperti aku .

*Kyeopta: cute
**Ne, ahjusshi: Ya, Paman.

Remedial Cinta

Aku menunduk kesal sembari mengaduk-aduk tanah becek dengan kakiku secara asal. Berkutat dengan sebuah pertanyaan. Kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan kapasitas yang berbeda? Kenapa Tuhan tak menciptakan aku seperti Airin yang jago Fisika atau seperti Dimas yang dengan mudahnya memahami Kimia dan juga Biologi? Padahal sungguh! Aku sudah belajar mati-matian untuk memahami mata pelajaran tersebut. Tapi ternyata hasilnya tetap saja nihil. Aku harus mengikuti remedial untuk yang ke-3 kalinya. Ke-3 kalinya! Ah, sial!

Aku masih saja merutuki diri sendiri. Bercuap lirih pada angin yang kemudian melarungkannya bersama hujan. Ah, hujan. Dari dulu aku begitu sangat menyukainya. Hujan memang selalu ampuh mengobati kegalauanku. Entahlah, ada damai yang selalu kurasakan di sana. Kala rerintiknya jatuh menghujam tanah, mereka seperti mengucapkan sejuta makna, sejuta bahasa.

“Kenapa masih di sini? Kau belum pulang?” aku mendongak menuju asal suara. Ternyata Dimas. Si jago Kimia juga Biologi itu. Aku hanya diam. Mengacuhkannya.

“Hai, Kay, hello!” teriaknya lagi sembari melambai-lambaikan tangannya persis di hadapanku.

“Kau tak tahu apa? Ini, kan, masih hujan, mengganggu saja!” jawabku bersungut-sungut.

Dia tersenyum. Tanpa disuruh, dia duduk di sampingku. Tangannya menengadah menyentuh  hujan yang turun dari atap halte.

“Ini sudah agak mendingan, lho. Nanti-nanti bisa besar lagi. Sekelilingmu juga sudah sepi.”

“Ini bukan urusanmu tau!” jawabku masih dengan nada ketus.

“Ha-ha, pasti tentang remedial itu kan? Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Biarkan saja sampai Bu Anissa bosan melihatmu, ha-ha!”  

“Argh, kau ini. Sudahlah pergi pergi sana. Aku ingin sendiri,” gerutuku kesal sembari mendorong-dorong tubuhnya. Dimas hanya bergidik mengangkat bahunya.

“Ya ya…lagian aku hanya ingin menawarimu tumpangan payung saja, kok. Baik, kan, aku ini? Kalau kau tak mau ya sudah…aku pergi.”

“Ya sudah, sana pergi!” teriakku mengusir
“Oke…hati-hati di sini, Nona Cantik,” lanjutnya lagi sembari beranjak, berlalu dari tempatku berteduh sembari bersiul-siul ringan.

Aku hanya menunduk. Masih sibuk dengan kekesalanku tentang remedial itu. Tak lama kemudian, entahlah…tiba-tiba saja ada keinginan untuk memanggil si Dimas itu.

“Dimas,” suaraku agak lirih dan tertahan. Tapi ternyata dia mendengarnya juga.
“Ya!” dia berhenti, menengok ke arahku. Beberapa detik kemudian mataku dan matanya beradu. Tiba-tiba saja ada sebuah getar-getar halus yang mengusikku. Ya Tuhan, apa ini? Tatapan mata Dimas tepat menancap di hatiku. Ditambah lagi dengan senyum manisnya yang berhias lesung pipit itu. Aku kikuk. Lalu secepatnya membuang pandang pada tanah becek yang berada di sisi jalan.

“Kenapa? Mau tumpangan payungnya?”
Aku menggeleng, “Tidak, terimakasih. Aku masih mau menikmati hujan dengan segala prosesnya. Air sungai, air laut, air sawah yang semuanya menguap karena panas yang menyengat lalu berdiam menggumpal di atas sana membentuk awan, hingga muatannya terasa berat lalu karena tak tahan dan kedinginan mereka menjatuhkan diri menjadi tetes-tetes hujan.(1)”
“Eh, menurutmu apa aku akan seperti itu? Karena tak tahan lalu aku akan menjatuhkan diri, putus asa?

“Arghhh, bodoh sekali memang aku ini. Tentu hujan berbeda sekali dengan keputusasaan ya,” aku menceracau sendiri sambil menepuk-nepuk jidatku yang tak sakit. Sementara Dimas terbengong di tempatnya sembari memandangiku takjub. Kini giliran aku yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya menyimpul pesan, kenapa?.

Dimas menghampiriku masih dengan tatapan takjubnya, sedangkan aku hanya garuk-garuk kepala, tak mengerti dengan tingkah anehnya.

“Kay! Puisi, Kay! Jika kau bilang aku kimia, Airin fisika, maka kau puisi, ya kau puisi,” Dimas mengguncang-guncang pundakku. Kembali, aku kikuk. Terdiam. Entah aku pun bingung sendiri dengan apa yang telah dikatakannya itu terlebih dengan apa yang aku ceracaukan tadi. Hadeuh!

“Kay, kau bisa memasukkan fisika, kimia atau yang lainnya melalui puisimu itu. Cobalah, aku yakin kau bisa. Bahkan bisa jauh melebihi Airin dan aku. Aku tunggu, namamu tak terpampang dalam daftar remedial berikutnya. Oke, Kay! Good luck, ya!” Dimas pergi. Meninggalkanku yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan berlalu.

Pada jarak 5 meter Dimas berbalik, melambaikan tangannya padaku lalu mengubahnya menjadi kepalan semangat. Tiba-tiba untuk ke-sekian kalinya, entah ada yang membuat perasaanku tak tenang. Tak tenang karena ada sebuah getaran asing yang tak bisa kuartikan. Senyum Dimas yang manis itu terbayang-bayang dalam benakku. Ah, apa pula ini?
*

Kalau dipikir-pikir, usul Dimas tentang belajar bersama puisi itu boleh juga untuk dicoba. Aku memang menyukai puisi, terkadang di tengah pelajaran kosong aku sering menceracau pada kertas hingga jadilah puisi yang entahlah menurutku tak jelas.

Aku memerhatikan usul Dimas baik-baik. Aku mencoba memasukkan kata-kata asing itu ke dalam puisi-puisiku. Awalnya aku kesusahan. Tapi dengan segenap konsentrasi dan kesungguhan akhirnya aku bisa melakukannya. Dan benar saja, kata-kata asing itu jika dipadupadankan dalam puisi-puisi, bagiku itu terasa sangat menyenangkan. Tapi aku benar-benar harus tahu kapan waktu yang bagus untuk belajar. Memahami pelajaran itu bersama alam juga planet-planetnya. Bersama senja juga semburat jingganya. Bersama hujan juga kandungan H2O dan mineral-mineral lainnya. Bersama kerlip bintang juga angkasa dan galaksi-galaksinya. Atau juga bersama aroma shubuh dengan O2 nya yang masih segar dan menenangkan. Aku bertekad, tak akan ada yang namanya remedial lagi. Titik!

Aku melangkah dengan pasti menyusuri koridor sekolah. Siap menyambut remedial yang begitu menyeramkan. Menyeramkan? Ah tidak! Aku akan menghadapinya dengan perasaan penuh cinta. Menyapa nomor-nomornya secara santun lalu menjabat tangan mereka sambil mengatakan, “Hai, aku Kayla, aku datang dengan segenap cinta. Aku akan menaklukkanmu secara lembut.” Lalu senyumku mengembang. Semuanya akan baik-baik saja. Dan bye-bye remedial. Ah, kenapa aku benar-benar jadi sepuitis ini? Bahkan lihatlah, bougenville di taman kelas itu mengangguk-angguk mengembangkan senyum manisnya padaku. Sementara kupu-kupu mengepakkan sayap warna-warninya mengelilingi taman. Dan oh, tidak! Mereka mengepalkan tangan tanda memberi semangat. Persis seperti apa yang Di….

“Halo, Kay.”
…mas lakukan. Aku terlonjak, kaget karena punggungku tiba-tiba ditepuk dari belakang. Aku melirik ke sumber suara, ya ampun! Dimas sudah berada persis di sampingku sembari mensejajarkan langkahnya dengan langkahku. Tangannya memeluk beberapa buku yang nampak begitu tebal-tebal di dadanya.

“Kau melamun? Awas, lho, nanti bisa diganggu jin iprit,” godanya padaku sembari tersenyum ringan. Sekilas aku memerhatikannya. Dan ternyata dia ganteng juga. Lesung pipitnya itu membuat dia semakin cute saja. Dan lagi, dia itu cerdas! Argh, secepatnya aku menggeleng-gelengkan kepala. Tidak!

“Iya, jin ipritnya itu kau,” aku bersungut-sungut, secepatnya mengalihkan hatiku pada sesuatu hal yang lain.

“Haha, aku tunggu hasil remedialmu itu, okey,” Dimas berlalu menyisakan senyum manisnya. Dan aku hanya bisa tersenyum merona. Inikah cinta? Bahkan bougenville dan kupu-kupu pun masih saja tersenyum dan melambaikan senyum semangatnya padaku. Ah, gila!

“Kay!”
Aku terlonjak lagi. Dimas kembali memanggilku dalam jarak 5 meter. Mengepalkan tangannya sembari mengembangkan senyum berhias lesung pipit yang perlahan aku mulai menyukainya.

“Semangat!” ucapnya lirih. Aku tersenyum, meski agak kikuk, aku membalas kepalan tangannya itu, “Ya, semangat!” kami berdua tertawa bersama dalam jarak 5 meter. Ah, bougenville…aku tak bisa menyangkalnya. Aku jatuh cinta!
*

Berkali-kali aku memicingkan mata, kali saja aku salah lihat. Bahkan lembaran kertas itu aku kibas-kibaskan dengan kerasnya, kali saja angkanya itu imitasi yang hanya tempelan belaka. Dan ternyata tak ada satu huruf atau angka pun yang rontok darinya. Ya, Tuhan…ini nyata. Aku berhasil melewati remedial ini setelah 2 remedial sebelumnya. Bahkan lihatlah, kau tau berapa nilainya? 9,9! Nol koma satu lagi menuju 10. Angka yang nyaris sempurna.

Aku berlari-lari senang. Menyapa semuanya yang lewat. Hujan nampaknya begitu paham dengan perasaanku yang sedang bahagia ini. Dia turun di waktu yang  begitu tepat. Aku semakin berlonjak-lonjak senang. Bougenville dan kupu-kupu bahkan menjabat tanganku erat. Senyumnya mengembang menyenangkan. Ah, apa aku sudah gila?

Satu orang yang benar-benar harus aku temui adalah dia. Dia yang menemukan aku bersama puisi. Dia yang dengan kepalan tangan dan senyum manisnya tak henti-henti untuk mengobarkan semangat untukku. Menunjukkan bahwa aku bisa. Dan kini benar, aku telah membuktikan bahwa aku bisa dan mampu untuk melewatinya. Dimas.

Sudah hampir setiap pojok ruangan dari sekolah ini aku jelajahi. Tapi tak nampak batang hidung pun si Dimas itu. Anak itu sebenarnya ke mana?

“Hai, Rin, kau tahu Dimas di mana?” aku berteriak ke arah Airin yang sedang sibuk membawa peralatan praktikum fisika.

“Dimas? Eh, ada di lab tuh…sedang sibuk dengan hati ayam dia,” jawab Airin sambil tetap jalan terburu-buru, membawa alat-alat itu dengan repot. Bayangkan saja, di tangan sebelah kanan dia membawa satu boks batu baterai. Di tangan sebelah kiri dia membawa ampere meter dan stop kontak, sedang di lehernya tergantung gulungan kabel. Maklumlah untuk mata pelajaran fisika sekarang labnya memisahkan diri, pindah ke ruangan baru. Aku hanya bisa tersenyum nyengir melihat Airin yang begitu nampak kerepotan.

Segera aku melangkahkan kakiku menuju ruang laboratorium yang memang belum terjamah karena tempatnya yang agak terpencil. Tentu saja mencari Dimas si pemilik lesung pipit. Aku mengintip melalui kaca jendela. Dan itu Dimas. Dia sedang menumbuk hati ayam yang kalau tak salah itu untuk menguji pengaruh enzim katalase(2) dalam penguraian Hidrogen Peroksida(H2O2). Aku pun pernah melakukan praktikum itu. Tapi semuanya gagal total karena aku  salah memasukkan larutan ke tabung yang berisi hati ayam itu. Tentu saja tidak bereaksi sama sekali. Tetesan yang aku masukkan bukannya larutan, tapi hanya aquades(3)  murni. Ha-ha!

Baru saja aku melangkah hendak masuk menuju pintu lab, Dimas dengan tubuh jangkungnya menyembul dari sebalik pintu. Terang saja kami bertabrakan dan tubuhku sedikit agak terpental kebelakang. Kertas yang sedari tadi kupegang, terjatuh. Dan tidak! Dimas menginjaknya.

“Ah, kau ini…awas, awas, awas!” Dimas buru-buru entah mau kemana. Aku menggeser beberapa langkah ke kiri sembari mendengus kesal. Memandangi kertas remedialku yang tadi terjatuh dan terinjak olehnya. Aku mengibas-ibaskan kertas itu. Hiks, kertasnya kotor.

Dimas itu meski ganteng tapi benar-benar sangat menyebalkan. Bahkan sekedar berbasa-basi saja dia tidak melakukannya. Sekedar untuk mengucapkan sesuatu, “Hai, Kay, ini hasil remedialmu itu, ya?” atau “Hai Kay, sedang apa kau di sini? Mau menemui aku yang ganteng ini ya?”. Huek, aku meringis sendiri. Mengapa aku jadi berharap banyak seperti ini?  Padahal selama ini mungkin saja dia memang hanya mau menyemangatiku saja. Atau mungkin aku yang perasa, dia memang ada urusan penting tadi. Ah, tentang perasaan ini memang terkadang merumitkan.

Aku lebih memilih pulang saja. Membiarkan semuanya larung bersama hujan. Termasuk tentang rasa ini yang entah selalu membuatku gundah. Biarkan saja semuanya seperti tetes-tetes hujan. Jika sudah waktunya, ia akan jatuh pada tempat yang selalu tepat. Tanah. Semuanya sudah ada pasangan dan takdirnya masing-masing, bukan? Termasuk cintaku ini, yang bahkan dia hadir untuk yang pertama kalinya. Dan aku akan tetap menyimpannya. Di sini, di hati ini. Lagi pula aku ini masih seorang pelajar yang memang harus belajar. Untuk urusan cinta, biarkan aku jatuh cinta. Ya, karena ini wajar. Dan tentunya aku pun harus bisa memperlakukannnya dengan wajar juga. Yeah….

Aku tersenyum, memandangi kertas remedialku yang kini agak kotor karena bekas injakan si Dimas itu. Aku memandanginya lamat-lamat. Perlahan aku melihat senyumnya mengembang. Angka-angka itu, huruf-huruf itu, semuanya, mereka mengepalkan tangannya sembari berucap, “Hai, Kayla, aku hanya kertas remedial yang mungkin tak ada apa-apanya dengan kertas Ujian Nasional nanti. Untuk cintamu yang telah sedikit kau larungkan bersama hujan, semangat!” Aku menatap takjub. Bahkan kini mulutku tercekat. Setelah bougenville dan kupu-kupu yang mengembangkan senyum semangatnya, kini mereka mulai ikut-ikutan juga? Ah, Gila!!
***

bieber-news:

Justin performing ‘Believe’ in Manchester (Feb 22)

bieber-news:

Justin performing ‘One Less Lonely Girl’ in Manchester (22/02)

bieber-news:

Justin performing ‘Fall’ in Manchester (Feb 22)

bieber-news:

Justin performing ‘Fall’ in Manchester (Feb 22)

hey everyone. follow me on twitter @nayyaww . i follow back :)

hey everyone. follow me on twitter @nayyaww . i follow back :)

Selembar Puisi Untuk Kekasih

terpaku dalam kegundahan hati                                                                                            terasa tak dapat kulawan dnegan jari-jari                                                                                                                                                                                                                            tiada lagi tempat hari yang terasa ada                                                                                                                                                                 hanya lelah lelah yang kurasa…

                                                                                                                                        andaikan waktu itu tak terjadi                                                                                                                  mungkin hatiku takkan remuk seperti ini                                                                                                                                                                                          langkahku berhanti dalam kelamnya malam                                                                                                                                   Mataku terhalang jurang yang dalam                                                                                              Pendengaranku sayup-sayup tak menentu                                                                                                  Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan                                                                                                               Raguku tak berkuasa untuk berfungsi

                                                                                                                              Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini                                                         Semangatku lemah hatiku susah                                                                     Teringat malam itu yang menyakitkan                                                                                     Inikah kehidupan?

Kurasa semua bukan seperti ini                                                              Mungkin masih ada titik terang                                                                       Yang akan menyinari kegelapan hati                                                                                                               Memberi pujian untuk diri sendiri                                                                                           Meredamkan semua yang ada saat ini                                                                                                                Hingga aku daapt kembali ke kehidupan yang indah ini                             

chocoholic luff

“Mmm..mmh..Sumpah nih cokelat enak banget. White chocolate-nya kerasa banget. Mengena di lidah, mengena di hati.”

            “Dasar chocoholic! Nih aku kasih lagi…” Diego ngulurin tangannya sambil tersenyum ramah. Uh, cool banget1

            “Ya ampun, kamu baik banget deh. Makasih ya…” Lidya dengan sumringah menerima coklat pemberian sang pacar.

            “Tapi entar bayar ya…” Diego tersenyum licik, “Satu cokelat satu ciuman.”

            “Mau coba ngerasain mandi pakai cokelat puanaas banget ya?” Lidya melotot ala vampire haus darah.

            “Boleh-boleh saja. Asal kamu yang mandiin. Hahahaha…” jawab Diego yang langsung disambut cubitan bertubi-tubi oleh Lidya.

            “Ampun..ampun…cuma bercanda kok. Hahahahaa….” Diego meringis kesakitan sambil tetap tertawa. (Gimana caranya coba?)

            “Bercanda kamu garing banget sih. Aku marah nih,” Lidya pura-pura ngambek.

            “Ya…jangan ngambek dong, Say..Nih aku kasih cokelat lagi. Mauuu?”

            “Mauuuuu…lagian siapa yang ngambek?”

            “Tengkyu ya…”

***

            Lidya memutar kenop pintu di hadapannya dengan sangat hati-hati kemudian menjulurkan kepalanya.

            Huff. Aman….clear…

            Perlahan dilangkahkannya kaki memasuki ruangan. Dengan mengendap-endap agar tidak berisik, Lidya menghampiri meja cokelat di pojok ruangan. Lantas ia tampak sibuk mengacak-acak tumpukan buku di atas meja itu.

            “Nah ini dia…Yes! Akhirnya dapat juga….” Lidya mengacungkan majalah di tangannya sambil bersorak gembira. Sedetik kemudian ia sadar dan segera menutup mulutnya. Lidya bergegas merapikan meja cokelat dan keluar dari ruangan.

            Hmm…Mission accomplished….

            Lidya segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dibalik-baliknya majalah yang berkoverkan Nadia Saphira itu. lidya tertarik dengan satu Quiz Box yang berjudul ‘SUDAHKAH KAMU MENYENANGKAN SI DIA? APA YANG SUDAH KAMU PERBUAT UNTUKNYA? Lidya mengerutkan keningnya, tanda ia sedang berpikir.

            “Apa yang sudah aku lakuin buat Diego? Apa ya??”

            Lidya kembali melanjutkan melahap isi Quiz Box tersebut.

            Girls, cowok pun senang, lho, kalau kita bikin dia senang. Lagipula enggak ada salahnya kan, kita melakukan hal-hal yang menyenangkan sang pacar. Sehingga dia merasa wajib untuk memperjuangkan kita (ciee…). Kaku si dia terus-terusan  yang berusaha menyenangkan kita, bisa-bisa dia bosan dan, minta putus.

            Nah saatnya kita introspeksi diri, sudahkah kita menyenangkan dia?

            Tandai ya atau tidak, sesuai dengan yang pernah kita lakukan. Terus, hitung berapa banyak kita jawab ya.

1.    Meneleponnya pagi-pagi dan mengucapkan selamat pagi.

Enggak pernah…Biasanya Diego yang nelepon duluan.

2.    Mengirim SMS: “Met malam en met bobo ya. Say.”

Enggak pernah…Biasanya Diego yang ngirim sms duluan.

3.     Datang pagi-pagi ke rumahnya sambil membawa hadiah di hari ultahnya.

Enggak pernah… Pagi-pagi kan aku masih ngantuk banget.

4.    Selalu hadir setiap kali dia tanding atau manggung.

Enggak pernah…Aku kan banyak les, mana sempat.

5.    Membuatkan makanan dan minuman untuknya.

Ah..ini sih pernah. Waktu itu kan Diego aku buatin segelas cokelat hangat.

6.    Memberi dia seikat bunga “Nih, Say, untuk kamu. Makasih karena telah member warna-warni indah dalam hari-hariku.

Enggak pernah…Malu ah!

7.    Muji dia; “say, aku orang keberapa yang bilang kalo kamu tuh cakep banget?” atau “Say, kamu baik banget deh!”

Pernah dong….Diego kan emang cakep dan baik banget.

8.    Ngehibur dia waktu dia sedih.

Keyaknya Diego enggak pernah sedih deh. Dia ceria terus di depan aku.

9.    Minta maaf duluan waktu dia lagi berantem.

Enggak pernah…Gengsi dong!

10. Hangout bareng ama si dia dan teman-temannya.

Enggak pernah…Malez ah!

            “Hmm..Oke…sekarang cek skore.”

            Di bawah 4:

            Wah…Gawat banget nih!

            Kita jarang bangeeeeeet ngelakuin hal-hal yang menyenangkan pacar. Padahal dia berusaha keras buat nyenengin kita. Pepatah bilang, “Apa yang kita ingin orang lain, lakukanlah terlebih dahulu. “Jadi jangan mau dimanja dan disayang dong, itu enggak adil buat dia. Tunjukin kalau kita juga sayang sama dia dengan cara melakukan hal-hal yang dia senang. Kita enggak mau kan kalau harus kehilangan dia? So, fight for him, Make him smiles, girls.”

            Untuk beberaoa saat Lidya masih memandangi majalah di hadapannya, hingga sebuah suara yang taka sing lagi di telinganya terdengar dari balik pintu.

            “LIDYA…KEMBALIIN MAJALAH AKU!” teriak Kak Lala.

***

            Lidya memandangi N70-nya. Dia sedang menunggu telepon dari seseorang, tapi HP-nya tak kunjung juga berbunyi.

            “Hmm…Sudah tiga hari Diego enggak nelepon aku, Apa jangan-jangan….” Lidya tak melanjutkan kata-katanya. Pikirannya melayang pada Quiz Box yang tempo hari dia baca. Kemungkinan itu bisa aja terjadi kan? Dan sekarang apa yang bisa ia perbuat? Lidya menatap sedih HP-nya yang merupakan hadiah ulang tahun dari papanya dua bulan yang lalu. Perasaan bersalah seketika menggerogoti hatinya.

            Kamu kenapa Diego? Batinnya.

***

            Lidya mengaduk-aduk nasi goring di piringnya. Terdengar suara sendok dan garpu diadu. Matanya tertuju pada gerobak penjual Teh Poci, tapi pikirannya terbang melayang-layang.

            Ditha, sohibnya menyadari kejanggalan ini. Padahal biasanya Lidya teriak-teriak enggak jelas kayak orang gila, jalan-jalan ke sana-sini atau foto-foto dengan menjunjung tinggi asas kenarsisan. Hari ini malah dia diam kayak patung. Aneh kan?!

            “Lid, kamu lagi sakit gigi ya?” Ditha mencoba menanyakan perihal kejanggalan tersebut, tapi Lidya tetap diam seribu bahasa. Bahkan dia tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan,

            “Lid…”Ditha menyenggol lengan Lidya. Akibatnya Lidya menyenggol gelas berisi susu cokelat di dekat piringnya hingga tumpah dan membasahi rok abu-abunya.

            “Eh. Sori, Lid.” Ditha segera mengambil tisu dari kantong roknya dan menyerahkannya pada Lidya.

            “Enggak apa-apa kok,” Lidya segera mengelap roknya.

            “Sebenarnya kamu kenapa sih? Kamu cerita dong ke aku,” Ditha kembali bertanya setelah insiden kecil tadi teratasi.

            Akhirnya mengalirlah semua cerita dari mulut Lidya. Muali dari Quiz Box yang tempo hari dia baca sampai tentang Diego yang sudah tiga hari enggak nelepon.

            “Jangan negative thinking dulu dong, Lid, Emang kamu sudah coba telepon dia?”

            “Sudaah, cuma sekali sih, tapi enggak diangkat.”

            “Ya ampun, Lid. Ya iyalah enggak diangkat, kali aja dia lagi sibuk, masa nelepon cuma sekali abis itu langsung give up. Gimana sih?”

            “Ya mana aku tahu. Makanya aku cerita ke kamu, supaya kamu bisa kasih tahu apa yang harus aku lakuin.”

            “Lidya…Lidya…Kamu sudah pacaran setengah tahun tapi masih betul-betul buta romantis dan hal-hal semacamnya ya…”

            “Apaan sih?!”

            “Ake heran deh. Kamu tahunya cokelat mulu. Jangan-jangan otakmu di banjiri coklat  kali ya?”

            “DITHA…”

***

            Berkat suruhan Ditha, Lidya akhirnya pergi ke rumah Diego demi mendapatkan penjelasan atas rasa penasarannya selama ini. Dengan Lidya memencet bel rumah tersebut. Rumah Diego sudah lama banget enggak dia datangin, berkisar lima bulan. Jantungnya serasa mau copot. Gimana kalau Diego menolak untuk bertengkar dengannya? Pikirannya kalut, hatinya kacau.

            Lima menit kemudian, pintu terbuka. Di balik pintu tersebut muncul wajah dan seseorang yang sudah tiga hari ini dia rinduin. Diego.

            “Lidya? Tumben datang ke sini? Masuk!” Diego segera mempersilakan Lidya masuk. Rasanya lega, ternyata segala sesuatunya tak seperti yang dia bayangkan sbelumnya.

            “Ada apa, Say?” Diego bertanya ramah kepada Lidya sebelumnya mengajaknya duduk dan menyuruh Mbok Inah membuatkan double milkshake cokelat, kesukaan Lidya.

            “Ake kangen banget sama kamu.”

            Diego hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.

            “Kok tiga hari ini kamu enggak ngehubungin aku sih? Terus aku telepon kok enggak diangkat?” Diego mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Lidya. Abis baru pertama pacarnya itu ngomong kayak gitu. Setelah tahu kalau itu bukan mimpi dan dia gak salah dan Diego tersenyum ramah pada Lidya. Uh, bener-bener cool banget…

            “Sori ya, Say, akhir-akhir ini aku banyak tugas. Aku janji deh enggak bakal kayak gini lagi.”

            Gentian Lidya yang tersenyum.

            “By the way, tugas apaan?” Lidya mengalihkan pembicaraan untuk menutupi groginya.

            “Aku disuruh bikin makalah tentang fairy trade gitu. Aku sampai ketimpungan cari bahannya. Boro-boro dapat, arti fair trade saja aku belum tahu. Parah banget kan? Makanya aku pusing banget nih.” Diego menuturkan masalahnya.

            “Fair trade? Kayaknya aku tahu deh. Hmm…Oh iya! Seingat aku, Make Trade Fair itu kan suatu organisasi yang bertujuan buat mendapatkan kesejajaran dalam perdagangan internasional, supaya tercipta keadilan bagi semua orang. Banyak para pekerja yang menghasilkan bahan dasar seperti beras, kopi, dan cokelat rugi besar karena hasil kerja mereka dibeli sama produsen dengan harga sangat murah. Tapi produsen menjual barang tersebut dengan harga yang cukup mahal. Indonesia adalah penghasil cokelat ketiga terbesar di dunia, tapi entah kenapa petani coklelat dari Indonesia yang sukses. Enggak hanya di sini, hal ini juga terjadi di negara lain. Atas dasar inilah dilakukan fair trade, supaya petani cokelat bisa ikut menikmati hasil kerja keras mereka. Dengan kata lain mereka ngedapetin haknya dengan rata dan adil. Aku pernah baca tuh di beberapa buku dan majalah. Entar kalau kamu mau, aku bawain deh.”

            Diego mengangguk setuju. Sebenarnya dia enggak terlalu nangkap apa yang dibilang Lidya tadi, habis Lidya ngomongnya kenceng banget kayak kereta api, tapi dia senang akhirnya dapat juga bahan untuk tugasnya.

            “Kayaknya kamu tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan cokelat ya…

            Hahahaha….”

***

            “Nih…”Lidya meletakkan tumpukan buku yang dibawanya di meja, kemudian dia menghempaskan tubuhnya di sofa, di samping Diego.

            “Makasih ya, Say. Aku enggak kebayang kalau kamu enggak bantuin aku.”

            Hening beberapa saat hingga akhirnya Lidya memulai pembicaraan.

            “Tahu enggak, aku tuh ngerasa kehilangan banget waktu kamu enggak ngehubungin aku selama tiga hari, aku kangeeen banget sama kamu. Aku pikir kamu marah sama aku…”Lidya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mukanya merah kayak kepiting rebus.

            “Marah? Kenapa?”

            “Selama ini kamu selalu baik sama aku, kamu selalu berusaha nyenangin aku. Tapi aku enggak pernah ngelakuin hal-hal yang nyenangin kamu, aku enggak pernah nelepon atau sms kamu untuk ucapin met pagi en met malam, aku jaraaang banget hadir kalau kamu tanding futsal, terus aku juga enggak pernah hang out bareng kamu dan teman-teman kamu. Aku ini pacar yang gak bisa kamu andalin. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sayaaaaaaaaaang banget sama kamu. Aku enggak mau kehilangan kamu.” Ucap Lidya lirih.

            “Lid, bukan berarti kamu ngelakuin hal-hal kayak yang kamu bilang tadi aku bakalan senang. Aku sudah cukup senang dengan hanya dengerin suara kamu tiap hari, mandangin kamu yang semangat banget makan cokelat dan lihat senyum kamu. Bagi aku, kamu cewek paling baik dan paling bisa aku andalin. Buktinya kamu nolonginaku cari bahan buat tugas aku. Jadi, kamu jangan pernah berpikiran kayak gitu lagi ya…Just be yourself…dan yang terakhir, aku juga sayaaaaaang banget ama kamu.”

            Lidya tak dapat membendung air matanya yang sedari tadi sudah mendesak keluar. Akhirnya Lidya menumpahkan semuanya dalam pelukan Diego yang amat sangat dia sayangi dan juga amat sangat menyayanginya.

***

 oleh: magaret siregar

-kaWanku Magazine